Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Upaya yang dilakukan lembaga pendidikan/pemerintah dalam mencegah terjadinya anak putus sekolah

Upaya yang dilakukan lembaga pendidikan/pemerintah dalam mencegah terjadinya anak putus sekolah

SUDUT PENDIDIKAN | Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah Desa Suka Damai dalam mencegah terjadinya anak putus sekolah. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yakni sebagai berikut:

  • Memberi Motivasi

Memberi motivasi meupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia karena motivasi dianggap sebagai sesuatu yang menjadi dorongan. Sebagai manusia sekiranya tidak lepas dari bantuan orang lain dan salah satunya adalah motivasi.

anak-putus-sekolah


Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang mengerakkan dan menggarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar (Dimyati dan Mudjiono, 80 : 2006). Motivasi merupakan sebuah kegiatan (aktifitas) yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu. Jucius (dalam Effendy, 64 : 2004) menyatakan bahwa motivasi sebagai kegiatan memberikan dorongan kepada seorang atau diri sendiri untu mengambil kegiatan yang di kehendaki.

Ada tiga komponen utama dalam motivasi, yaitu: (1) kebutuhan, (2) dorongan, (3) tujuan. Kebutuhan terjadi bila individu merasa ada ketidakseimbangan anatara apa yang ia miliki dan apa yang ia harapkan. Dorongan merupakan kekuatan mental yang berorientasi pada pemenuhan harapan dan pencapaian tujuan.. Sedangkan tujuan adalah hal yang ingin dicapai oleh seseorang individu, Koeswara dalam (Dimiyati dan Mudjiono, 80-81, : 2006).

Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dsan kemaunnya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau tujuan tertentu (Purwanto 73 : 2007).

  • Melakukan Pembinaan

Menurut Yurudik Yahya, (di akses 12 Maret 2013). Pembinaan adalah suatu bimbingan atau arahan yang dilakukan secara sadar dari orang dewasa kepada anak yang perlu dewasa agar menjadi dewasa, mandiri dan memiliki kepribadian yang utuh dan matang kepribadian yang dimaksud mencapai aspek cipta, rasa dan karsa. Istilah pembinaan atau berarti “pendidikan” yang merupakan pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada yang belum dewasa untuk mencapai kehidupan yang lebih tinggi. Pembinaan merupakan proses yang dilakukan untuk merubah tingkah laku individu serta membentuk kepribadiaanya, sehingga apa yang di cita-citakan dapat tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan.

  • Pendidikan Kesetaraan / Kejar Paket A, B dan C.

Berdasarkan Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26 ayat (3), bahwa pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA yang mencakup Program Paket A, Paket B, dan Paket C.

Pendidikan Kesetaran yang meliputi program pendidikan Paket A, B dan C ditunjukkan bagi masyarakat yang putus sekolah yang mempunyai kesulitan sosial ekonomi seperti petani, nelayan, anak jalanan dan lain-lain. Masyarakat yang bertempat tinggal di daerah yang terisolir seperti daerah perbatasan, daerah rawan bencana atau daerah yang belum mempunyai fasilitas yang memadai dan lain-lain.

Program pendidikan kesetaraan merupakan solusi bagi masyarakat yang tidak mengikuti atau menyelesaikan pendidikan formal karena berbagai macam faktor dan alasan. Masyarakat yang membentuk komunitas belajar sendiri serta bagi mereka yang menentukan pendidikan kesetaraan atas pilihan sendiri. Program pendidikan kesetaraan / kejar paket A, B dan C mempunyai tujuan yang sama dengan pendidikan pada umumnya yakni meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap warga belajar sehingga dapat memiliki pengetahuan yang bermanfaat bagi diri serta bagi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selanjutnya yang dapat menyelenggarakan pendidikan kesetaraan adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Organisasi Kemasyarakatan, Yayasan Badan Hukum atau Badan Usaha, Organisasi Keagamaa dan lain-lain.
Read More
Faktor-faktor penyebab anak putus sekolah

Faktor-faktor penyebab anak putus sekolah

Faktor Lingkungan


  • Lingkungan keluarga

Keluarga merupakan sekelompok manusia yang hanya terdiri dari orang tua (ibu dan ayah), dengan anak-anaknya yang belum menikah. Menurut Buharudin Salam (2002: 14) mengemukakan bahwa keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama dan utama, berlangsung secara wajar, dan informal serta melalui media permainan. Dalam keluarga anak lambat laut dapat membentuk konsepsi tentang pribadinya, baik tepat maupun kurang tepat, karena keluaga merupakan dunia anak pertama yang memberiak sumbangan mental dan fisik terhadap hidupnya.

Faktor-faktor-penyebab-anak-putus-sekolah


Keadaan keluarga berlainan satu sama lain. Ada keluarga yang kaya, ada yang kurang mampu, ada keluarga yang besar (banyak anggota keluarga), ada pula keluarga yang kecil. Ada keluarga yang bercekcok dan gaduh dan sebagainya. Dalam keluarga yang bermacam-macam seperti inilah yang membawa pengaruh terhadap pendidikan dan minat sekolah anak (Purwanto, 84 : 2007).

Keluarga adalah lembaga pertama yang menjadi tempat seorang anak bersosialisasi. Keluarga harusnya mampu memberikan kenyamanan bagi kehidupan anak, dalam keluarga anak dapat berinteraksi tanpa ada kecanggungan karena keluarga adalah lingkungan sosial pertama yang dikenal oleh seorang anak.

  • Lingkungan sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal memegang peranan penting dalam pendidikan karena pengaruhnya besar sekali pada jiwa seorang anak. Maka disamping keluarga sebagai pusat pendidikan, sekolah pun mempunyai fungsi sebagai pusat pendidikan untuk pembentukan pribadi seorang anak.

Ketika seorang anak mulai masuk sekolah, itu artinya ia telah masuk pada lingkungan masyarakat yang berbeda dengan lingkungan masyarakat keluarga. Jamaludin (2009: 156-157) mengatakan bahwa ketika menuju sekolah seorang anak membawa beban-beban emosional yang berpotensi menghalanginya untuk bersekolah. Jika di sekolah mereka tidak mendapat pengarahan yang baik dan bahkan dibenturkan dengan peraturan-peraturan yang keras maka mereka akan melanggar peraturan-peraturan tersebut.

Peralihan yang sangat mendadak dari kehidupan rumah tangga ke kehidupan sekolah dan dirasakan sangat berat, terutama bagi anak-anak yang baru saja masuk sekolah.(Purwanto, 120 : 2007)
Hal ini dapat diartikan bahwa sekolah dengan peraturan yang keras biasanya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya kasus-kasus dan penyimpanagan yang menyebabkan seorang anak tidak lagi ingin pergi ke sekolah. Maka dari sinilah awal anak putus sekolah (Jamaludin, 2009: 57).

Sekolah menjadi salah satu penyebab seorang anak tidak lagi termotivasi untuk dikarenakan seorang anak merasa kebebasannya ditekan dengan adanya peraturan-peraturan yang keras yang di terapkan oleh pihak sekolah.

  • Lingkungan Masyarakat

Lingkungan masyarakat merupakan lingkungan di mana seseorang hidup, bergerak dan melakukan interaksi dengan orang lain dan saling mempengaruhi. Lingkungan yang tidak baik akan memberikan pengaruh yang tidak baik pula terhadap seorang anak, apalagi anak berusia sekolah.

Faktor Ekonomi

Pendidikan di pandang sebagai salah satu faktor pendorong untuk pertumbuhan ekonomi, karena ekonomi merupakan faktor utama dalam menjalankan pendidikan. Ekonomi orang tua yang yang tidak merata menyebabkan orang tua tidak mampu membiayai anaknya untuk sekolah.

Kurangnya pendapatan keluarga menyebabkan orangtua bekerja keras mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga perhatian orang tua terhadap pendidikan cenderung terabaikan. Bahkan dinggap meringankan beban orang tua anak di ajak untuk bekerja sehingga meninggalkan bangku sekolah dalam waktu yang cukup lama. apalagi setelah merasakan betapa enaknya membelanjakan uang hasil kerja keras sendiri akhirnya tidak terasa meninggalkan bangku sekolahnya begitu saja.

Kurangnya minat bersekolah.

Anak usia wajib belajar semestinya menggebu-gebu ingin menuntut ilmu pengetahuan namun sudah terpengaruh oleh lingkungan yang kurang baik maka keinginan bersekolah seorang anak secara tidak langsung sedikit demi sedikit akan berkurang, ditambah lagi kurangnya perhatian orang tua terhadap pendidikan anaknya, kurangnya orang-orang terpelajar dalam pergaulan anak menyebabkan seorang anak akan berhenti untuk bersekolah.
Read More
Pengertian anak putus sekolah

Pengertian anak putus sekolah

SUDUT PENDIDIKAN | Sekolah merupakan lembaga pendidikan tempat di mana seorang anak untuk belajar dan menuntut ilmu. Akan tetapi sekolah tidak dapat memberikan jaminan terhadap anak untuk terus melanjutkan pendidikannya. Hal ini dapat di lihat dari banyaknya anak yang putus sekolah. Dalam hal ini yang dimaksud putus sekolah ialah suatu keadaan di mana murid-murid keluar sekolah sebelum waktunya menamatkan pelajaran yang disebabkan oleh berbagai faktor yang ada di luar dirinya.

anak-putus-sekolah


Dalam hubungan anak putus sekolah ini Djumhur dan Surya (1975: 178) mmengatakan bahwa putus sekolah adalah kegagalan murid dalam menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu. Menurut Djumhur dan Surya (1975: 179) jenis putus sekolah dapat dikelompokkan atas tiga yaitu:

  • Putus sekolah atau berhenti dalam jenjang

Putus sekolah dalam jenjang ini yaitu seorang murid atau siswa yang berhenti sekolah tapi masih dalam jenjang tertentu. Contohnya seoarang siswa yang putus sekolah sebelum menamatkan sekolahnya pada tingkat SD, SLTP, SLTA dan Perguruan Tinggi.

  • Putus sekolah di ujung jenjang

Putus sekolah di ujung jenjang artinya mereka yang tidak sempat menamatkan pelajaran sekolah tertentu. Dengan kata lain mereka berhenti pada tingkatan akhir dalam dalam tingkatan sekolah tertentu. Contohnya, mereka yang sudah duduk di bangku kelas VI SD, kelas III SLTP, kelas III SLTA dan sebagainya tanpa memperoleh ijazah.

  • Putus sekolah atau berhenti antara jenjang

Putus sekolah yang dimaksud dengan berhenti antara jenjang yaitu tidak melanjutkan pelajaran ketingkat yang lebih tinggi. Contohnya, seorang yang telah menamatkan pendidikannya di tingkatan SD tetapi tidak bisa melanjutkan pelajaran ketingkat yang lebih tinggi.

Putus sekolah secara umum dapat diartikan sebagai orang/anak ataupun si yang keluar dalam suatu sistem pendidikan sebelum mereka menamatkan pendidikan sesuai dengan jenjang waktu sistem persekolahan yang diikuti. Dengan demikian putus sekolah dapat pula diartikan tidak tamat/gagal dalam belajar ketingkat lanjut. Dan biasanya orang yang gagal dalam suatu proses kegiatan pendidikan yang terkait dengan tingkat jenjang maupun waktu belajar sebagaimana telah ditetapkan dapat di kategorikan sebagai orang yang gagal dalam pendidikan ataupun putus sekolah.

Menurut Gubali (1982 ;76) putus sekolah terjadi karena dua bentuk kemungkinan yaitu:

  1. Mengundurkan diri sekolah sebelum menamatkan pelajaran, dan
  2. Gagal dalam menempuh ujian akhir.

Jadi, anak putus sekolah adalah keadaan dimana anak berhenti atau tidak melanjutkan pendidikannya ketingkat lebih tinggi karena berbagai macam alasan. Putus sekolah bisa juga disebabkan oleh dikeluarkannya (Droup out) seorang anak dari lembaga pendidikan karena anak tersebut mendapatkan masalah di sekolahnya.
Read More